All of the random stuffs

I'm who i am. Rain worshipers, Moon lovers, and Rainbow seekers

Tidak ada tempat berlabuh yang teduh selain di matamu. Setidaknya untuk hari ini.

Saya kangen kamu sangat. Boleh minta peluk?

Kamar 13

Ini hari ke sekian sejak tanggal 5 Oktober 2011 saya tinggal di wisma. Dari berbagai kalangan suku, daerah dan semuanya kumpul disini. Seneng sih, banyak kenalan dari orang-orang daerah lain di seluaruh Indonesia. Kebetulan juga saya satu kamar dengan 4 orang peserta lainnya. Ada Ka Erni dari Papua, Riri dari Riau, Ulfa dari Makassar dan Monic dari Papua. Awalnya rada aneh juga sik, tapi ya saya berusaha menyesuaikan diri sesuai dengan karakter saya sendiri. Ada ketidakcocokan dan ada pula kesamaan. Yah, yang namanya orang apalagi orang yang baru dikenal pasti adalah perbedaan. Tapi lambat laun, saya merasa nyaman dengan teman-teman sekamar saya ini. Semuanya bersemangat untuk lulus dalam ujian yang akan kami hadapi sebentar lagi. Pastinya hal ini membuat saya juga tertular eneri positif untuk turut serta bersemangat mengejar kelulusan.

 Minggu, 16 Oktober 2011

Selesai..

Ketika engkau datang, mengapa disaat ku tak mungkin menggapaimu

Meskipun telah kau semaikan cinta, dibalik senyuman indah

Kau jadikan seakan nyata seolah kau belahan jiwa

Meskipun tak mungkin lagi tuk menjadi pasanganku

Namun ku yakini cinta kau kekasih hati

 

Terkadang begitu sukar, untuk dimengerti semua ini kita terlambat

Meskipun telah kau semaikan cinta, dibalik senyuman indah

Kau jadikan seakan nyata seolah kau belahan jiwa

Meskipun tak mungkin lagi tuk menjadi pasanganku

Namun ku yakini cinta kau kekasih hati

 

Soulmate_Kahitna

 

Ini, lagu yang beberapa liriknya kamu jadikan status di fac*b**k. Aku hanya penasaran, sebenarnya apa yang sedang terjadi denganmu kala itu. Meski sedikit banyak aku merasa itu tertuju padaku. Dan jika memang benar, aku sakit sekali rasanya atau, sesak lebih tepatnya.

Malam ini, aku memberanikan diriku untuk melangkah. Melangkah ke arah yang berlawanan dengan kata hatiku. Aku sudah lelah menunggu, entah sampai kapan aku menunggu untuk apa yang tidak berbentuk, melainkan sebuah hal yang orang-orang menyebutnya ‘rasa’.

Well, sebenarnya ini ada manfaatnya, aku bisa sekaligus melatih kesabaranku. Terimakasih kamu..

Selalu dan kembali terulang, komunikasi menjadi hal yang krusial dalam sebuah hubungan dan itu yang sedang bermasalah denganku. Aku cukup kurang bisa menyampaikan apa yang ingin dan sedang aku rasakan. Termasuk apa yang aku rasakan padamu. Maaf jika aku tidak bisa menjadi presentator yang pandai.

Ahh, aku rasanya ingin kembali ke masa-masa itu. Pertemuan kita, perkenalan dan segala hal yang terjadi ketika ada aku dan kamu disitu. Aku kurang bisa mendeskripsikannya, hanya aku bisa sebut itu sekarang sebagai kenangan.

Aku mau cerita sedikit tentangmu (yang aku tahu) disini. Rasanya sama seperti perkenalanku dengan orang-orang yang baru aku kenal dan yah, aku rasa kamu pun begitu. Dan kemudian terjalinlah komunikasi antara kita, pertemuan dan bisa dibilang ini perpisahan.. 

Kamu, adalah orang yang setahun terakhir ini bisa membuat aku secara tidak sadar melahirkan senyum di waktu-waktu yang tidak terduga, serta aku tak tahu apa penyebabnya. Pertama aku kenal kamu, aku senang, senang dengan aura kamu yang (bisa aku sebut) positif. Dan entah apa yang aku pikirkan, pertama kali kita makan bersama, ada sesuatu yang menarik dari kamu yang berasal dari, mata. Yah, tatapan itu yang selalu seolah memanggil aku untuk terus ingin melihatnya setiap pertemuan kita (selalu). Dan satu hal yang aku tahu, aura positif kamu seperti membawa orang-orang di sekitar kamu (atau lebih tepatnya itu aku) untuk berperilaku positif dan menjadi pribadi yang lebih baik. seperti misalnya, melatih kesabaran dengan menunggu minggu atau bulan berganti hanya untuk 2 atau 3 jam bertemu. Dan yah, masih banyak yang lainnya. Selebihnya, aku kenal kamu dengan kelebihan dan kekuranganmu bukan? Dan itu karena kamu manusia.

Kamu, aku tidak pernah ingin terlihat buruk di depanmu atau di belakangmu. Aku hanya aku. Entah apa yang terjadi sampai pada akhirnya apa yang sudah terjadi seperti tidak pernah terjadi (bingung? Iya sama, aku pun). Aku perlu waktu untuk mengembalikan hati yang sudah lecet sana-sini. Bukan aku tak mau membalas sapaanmu, hanya saja aku perlu menyapa diriku dahulu, dan menyadari bahwa ini nyata (tepuk-tepuk pipi).

Aku (mungkin) akan merindukanmu (someday). Suara rendahmu yang terdengar seperti bapak umur 40an atau cara bicaramu yang kaku, keluguan ataupun kelucuan yang sama sekali tidak lucu, bahkan caramu mengirimkan pesan singkat untukku. Itu hal yang manis (menurut aku) dan sederhana. Yah, kita berteman sesederhana itu.

Sekarang ini, aku sudah puas menunggu meski aku tidak mendapatkan akau yang aku tunggu, atau dengan kata lain kamu. Aku butuh istirahat, menunggu itu bukan sesuatu yang mudah kawan ;)

Semoga aku tidak dipertemukan lagi denganmu. Bukan, bukan karena aku tidak suka, melainkan untuk menjaga keseimbangan dan ketentraman hati. Dengan begitu, aku tak perlu tersedu-sedu hanya karena teringat bagaimana gerimis menutup pertemuan kita, atau ketika tawa yang meledak karena lelucon yang tidak lucu (sama sekali).

Aku selalu suka hujan, karena selalu ada kamu disitu. Tapi sayang sekali malam ini tidak gerimis (apalagi hujan). Dan hujanpun tidak sesederhana itu untuk diartikan, juga kamu..

 

00.30

Sunday, September 04, 2011

Khaerunnisa